Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2023

Januari 2023

Selamat tahun baru

Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya

Aamiin


Salam

Adnida Kia Rahid 

Minggu, 07 Maret 2021

Misoshiru/Sup Miso - A La Kia

Hola hola hola!

Kia kembali lagi~~~

Baru-baru ini, Mama dapat pasta miso putihdari temannya. Jujur aja, waktu Mama bawa pulang ke rumah saya ngerasa aneh, mau dibikin apaan ya, hahahaha. Bahannya asing dan saya nggak pernah bikin. Aromanya juga asing di hidung saya, hahaha. Terus, saya cari-cari resep masakan Jepang yang pakai pasta miso, ternyata ada resep sup miso yang simpel, bahan-bahan sisanya saya beli di supermarket sekalian belanja bulanan, hehehe. Yuk, langsung aja kita cekidot!

  • Bahan
    • 3 sdm pasta miso (nggak tau apa mereknya, soalnya Bahasa Jepang, bahan ini bisa di cari di supermarket besar, toko online atau toko khusus bahan makanan Jepang)
    • 10 gr rumput laut kering (Undaria pinnatifida), rendam dalam air hingga mengembang (nggak tau apa mereknya, soalnya Bahasa Jepang, bahan ini bisa di cari di supermarket besar, toko online atau toko khusus bahan makanan Jepang)
    • 30 gr katsuobushi (bonito flakes) (nggak tau apa mereknya, soalnya Bahasa Jepang, bahan ini bisa di cari di supermarket besar, toko online atau toko khusus bahan makanan Jepang)
    • 3 bungkus tahu jepang (saya pakai merek Sakura)
    • 3 batang daun bawang bagian hijau, iris tipis-tipis
    • 600 ml air
  • Alat
    • Panci
    • Kompor
    • Sendok Sayur
    • Pisau
    • Talenan
    • Saringan
  • Cara Membuat
    • Rebus katsuobushi dengan air hingga mendidih, saring katsuobushi, yang dipakai hanya air kaldunya (dashi).
    • Potong-potong rumput laut yang telah mengembang sepanjang 2-3 cm.
    • Potong-potong tahu menjadi bentuk kotak kecil.
    • Ke dalam kaldu, masukkan tahu, masak hingga setengah matang.
    • Larutkan pasta miso dengan sedikit air kaldu.
    • Masukkan laurutan miso ke dalam sup, aduk rata.
    • Masukkan daun bawang dan rumput laut.
    • Masak hingga matang dan mendidih.
    • Siap disajikan.
  • Tips
    • Menurut beberapa resep, isiannya bisa kita kreasikan sendiri, pakai ayam mungkin tambah enak ya, nanti saya buat lagi yang pakai ayam.
    • Jika ingin lebih gurih, pasta miso bisa ditambah lebih banyak.
    • Jika merasa kurang asin, bisa tambah garam.
    • Jangan langsung memasukkan pasta miso ke dalam air, sebaiknya larutkan dahulu.

Yeeey, selesai! Cara membuatnya memang mudah ya, cuman bahannya memang agak sulit dicari dan mahal juga sih, hahahaha. Semoga bermanfaat :)


Salam

Adnida Kia Rahid


Senin, 03 Agustus 2020

(Pa)Jeon (Pancake Korea) - A La Kia

Hola hola hola!!!

Kia kembali lagi~~~

Jadi, selama seminggu kemarin, sampai H+2 Lebaran Idul Adha, keluarga om saya (adek dari Bapak) menginap di rumah. Sampai dua tahun lalu, mereka memang tinggal barengan kami, tapi, setelah rumah mereka jadi, mereka memutuskan pindah, rumah yang kami tempati memang rumah yang Bapak saya bangun, dulu waktu om saya masih berjuang untuk mandiri, Bapak sengaja membangun rumah dengan banyak kamar supaya om saya bisa tinggal dulu di sana dan terus bersama orangtua mereka (kakek dan nenek).

Sekarang di rumah saya ada empat kamar kosong. Satu kamar dulunya ditempati oleh om dan tante, satu kamar ditempati anak mereka sulung mereka yang perempuan (usianya cuman beda dua minggu dari saya, hehe. Saya baru lahir setelah dua tahun orangtua saya menikah), satu kamar ditempati dua anak mereka yang laki-laki, adeknya sepupu saya yang perempuan, dan satu kamar memang diperuntukkan sebagai kamar tamu. Sekarang sih, kamar bekas adek sepupu yang laki-laki dijadikan kamar kerjanya Bapak, terus kamar bekas adek sepupu saya yang perempuan dijadikan kamar tamu juga, sementara kamar bekas om dan tante saya masih tetap hampir sama dengan yang dulu, soalnya mereka sering datang menginap kalau malam minggu.

Hmmmm, adek sepupu saya yang perempuan ini kuliah di Kampus tempat Mama dan Bapak mengajar. Anaknya sukaaaaaaa sekali nonton Drama Korea atau apapun yang berhubungan dengan K-Pop, hahaha (saya lebih suka nonton Anime atau kartun-kartun Disney, BoBoiBoy dan Ejen Ali yang dari Malaysia). Jadi, selama dia menginap, saya selalu dijejelin dengan tontonan Drama Korea, musik korea dan seriiiiiiiing sekali dia nyeletuk pakai Bahasa Korea (saya nggak ngerti dia ngomong apa, hahahaha), apalagi kalau nginap dia pasti tidurnya di kamar saya.

Nah, kebiasaanya yang lain tuh, dia suka banget request makanan atau cemilan kalau sama saya, malah kadang dia datang ke rumah sambil bawa bahan untuk dimasakin cemilan atau diajari menu yang menurutnya enak. Bukan cuman adek kandung saya yang senang request menu, tiga sepupu dari Bapak saya juga hobi.

Jadi, dua hari sebelum datang dia WhatsApp pengen dibuatin Jeon katanya. Dari hasil pencarian saya, jeon itu semacam gorengannya orang Korea, sering juga dibilang Pancake Korea. Jenisnya juga lumanyan banyak. Saya cari yang gampang, dan dapatlah saya pajeon (Pa = daun bawang, Jeon = gorengan, kira-kira gitulah). Bahannya juga mudah didapat dan isiannya simpel, tapi saya dapat yang dengan campuran seafood juga, entah namanya masih pajeon atau bukan, tolong dikoreksi kalau salah ya!

Nah, daripada curhat melulu, yuk langsung aja kita cekidot!!!

  • Bahan
    • Pajeon
      • 150 gr tepung terigu serbaguna (saya pakai merek Bogasari yang Cakra Kembar)
      • 1  buah cabai merah, buang batang dan bijinya, cuci bersih, iris tipis
      • 1 butir telur ayam
      • 2 siung bawang putih, haluskan
      • 5 batang daun bawang, ambil bagian hijaunya saja, cuci bersih, potong memanjang
      • cup cumi-cumi, cuci bersih, potong melintang kecil-kecil
      • cup daging udang, cuci bersih, buang hitamnya, potong kecil-kecil
      • Air secukupnya
      • Garam secukupnya
      • Merica bubuk secukupnya
      • Minyak goreng secukupnya
    • Saus Cocolan
      • 20 sdm kecap asin (saya pakai merek ABC)
      • 2 sdt bubuk cabai (saya pakai merek Bon Cabe Level 2)
      • 1 sdm cuka masak (saya pakai merek DIXI)
      • 1 sdm wijen sangrai siap pakai (opsional)
  • Alat
    • Wadah
    • Pengaduk
    • Kompor
    • Wajan/ teflon
    • Sodet
    • Peniris
    • Sendok
    • Pisau
    • Talenan
  • Cara Membuat
    • Saus Cocolan
      • Masukkan semua bahan ke dalam wadah/ mangkok, aduk hingga rata. 
    • Pajeon
      • Campurkan semua bahan pajeon dalam wadah, aduk rata.
      • Masukkan air, aduk rata hingga adonan kental.
      • Panaskan wajan di atas api sedang-kecil.
      • Masukkan 3 sdm minyak goreng, ratakan.
      • Masukkan 1 sendok sayur adonan (atau sesuai selera), ratakan.
      • Goreng hingga kedua sisi berwarna kecoklatan dan garing.
      • Angkat, tiriskan sebentar.
    • Sajikan bersama saus cocolan.

Yeeeeey, udah jadi! Enak juga ternyata, hehehe. Simpel dan mudah. Kami berlima makan bersama, bahkan nambah sampai dua kali (ya, kan kami semua sudah besar, hahahaha). Okedeh, semoga bermanfaat ya :)


Salam
Adnida Kia Rahid

Jumat, 26 Januari 2018

Kenapa Cuman Posting Makanan A La Barat?

Halo Halo Halo

Kia kembali lagiiiii~~~

Hmmmm, seorang teman sekampus yang suka main ke Blog saya #ciaaaah, nanyain sesuatu hal yang akhirnya membuat saya berpikir juga.

Jadi, teman saya itu nanyain ; "Kia, kenapa posting-anmu soal resep masakan kebanyakan masakan barat? Bukannya lebih baik resep Indonesia?"

Hmmmm ... Mungkin di luar sana, ada juga yang bertanya demikian. Jadi, akan Kia jelaskan di sini. 

Jadi, saya adalah seorang anak rantau yang tinggal di kosan. Jarak dari rumah orangtua saya ke kampus tempat saya belajar sekitar 6 jam tanpa macet, kalau macet bisa lebih dari 6 jam (biasanya pas musim mudik sih). Saya juga dapat uang bulanan yang ditransfer. Sebulan, saya dikirimkan sekitar Rp500.000,- sampai Rp700.000,- (paling sering Rp600.000,- sih). Dengan uang segitu, saya harus berbagi untuk gas, air minum, perlengkapan kuliah, prektek lapang, belum lagi nombokin penggalangan dana yang jumlahnya nggak sampai target, belum lagi dipaksa beli dagangan orang, dan juga untuk ditabung. Juga,untuk beli token listrik, apalagi di kosan saya ada kulkas kecil, satu kipas angin, rice cooker mini, dan kamar mandi dalam. Juga, keperluan untuk membeli pulsa dan kuota internet (sebulan jatah 3 gb, biasanya lebih sering namplok di fakultas nyari WiFi buat kerja tugas, lumayan ngirit kuota). Belum lagi kalau kertas dan tinta printer habis, ya, harus beli. Ngeprint di luar mahal cuy! Soal laundry, saya paling anti. Sebisa mungkin cuci sendiri dan nggak numpuk cucian. Jemur di jemuran atas kosan juga kering kok. Apalagi saya cuman setrika baju-baju untuk kuliah, baju di kosan mah, biar kusut bodo amat.

Soal kosmetik. Saya bukan tipe orang yang suka pakai gituan sih, yang paling sering juga cuman, bedak, foundation, lipstick, deodoran, handbody, sama parfum. Saya nggak pernah pakai pensil alis, semprotan wajah, masker, lulur de es be. Kalau soal sunblock sama lulur, saya cuman beli yang ukuran paling kecil saat menjelang praktek lapang, supaya saya nggak terlalu hitam dan cepat balik putih, hohoho. Dan yah, saya cuman beli itu semua setahun sekali. Serius. Oh, kecuali parfum yang tiga-empat bulan.

Kalau soal obat, yang harus selalu ada di kosan juga palingan obat sakit kepala, kayu putih, koyo, betadine, handsaplast, perban, obat tetes mata, obat diare. Semenjak kuliah saya udah nggak minum vitamin sih, mahal. Hoho. Ya, berusahalah untuk setidaknya meminimalisir kecelakaan ya.

Untuk makan sendiri, yang selalu harus ada di kosan beras, bumbu dapur (garam, gula, penyedap rasa, merica, saos, kecap, dan sambal botolan), mie instan (pastinya), telur atau tempe. Kadang-kadang juga beli kerupuk mentah sebungkus yang banyak (biasanya awet sekitar dua-tiga bulan). Beli keju juga kadang-kadang, malah harus mikir dulu buat beli. Kadang juga beli roti sama mentega (bikin roti jadul, pake mentega sama gula pasir).

Saya lihat, masakan barat yang saya buat juga bahannya itu-itu aja. Selama hampir dua tahun kuliah, baru sekali juga buat pizza di kosan, itu juga habis narik tabungan karena lagi pengen banget makan. Buat Mie Carbonara KW, juga kalau lagi ada uang lebih aja. Paling sering ya, makan nasi pakai telur ceplok sama kecap plus kerupuk, atau tempe goreng (saya nggak doyan tahu), atau bakwan yang bikin sendiri sama buah pisang. Kalau lagi mewah ya, tambahan sayur kangkung bikin sendiri, atau sayur lodeh (cuman dua sayur ini yang saya suka), atau bikin soto sendiri pakai bumbu instan (cuman nuang bumbu aja di air panas, pakai soun lima ribuan, sama ayam suwir, dengan nasi. Susu, itu juga kalengan yang awet sebulan, bikinnya di gelas kecil (hahahaha). Yah, palingan juga beli minuman sachet yang serenceng kalau lagi mau. Soal beli ayam, juga nggak pernah sampai seekor, cuman setengah ekor aja, itu juga nggak setiap minggu, palingan cuman tiga-empat kali satu semester, alias sebulan sekali. Itu juga kalau ada uang lebih.

Makan juga paling banyak dua kali sehari, malah nggak makan juga saya ayok (yap, ini yang bikin saya tipes, hahaha. Makan nggak teratur). Awalnya susah ya, tapi udah kebiasaan jadi nggak masalah.

Kalau saya mau buat masakan Indonesia, ambillah olahan ayam (ayam bumbu kuning, ayam kalasan, ayam kremes, ayam srundeng, de es be), waduh, habis gas saya. Belum didiamkan sampai bumbu meresap, diungkep sampai air habis, digoreng lagi, bikin olesannya, bikin kremesannya ... tabung gas kecil itumah nggak cukup -_-".

Saya juga suka kok, bikin masakan Indonesia, tapi, nggak pas di kosan. Saya juga suka masakan Indonesia. Terutama ayam goreng srundeng atau ayam goreng kecap, wuuuuiiiihhh, rebutan saya sama adek di rumah.

Yah, orangtua juga selalu bilang untuk makan teratur, kalau untuk makan mereka nggak masalah saya minta lebih.

Tapiiiiii, saya juga harus mikir-mikir. Uang untuk kosan aja setahun udah Rp8.400.000,- spp saya Rp2.000.000,- apalagi saya nggak punya beasiswa. Saya nggak pakai kendaraan di sini, dari kosan ke kampus jalan kaki 10 menit sampai. Jangankan mau bawa motor, sepeda aja masih jatoh -_-. Belum lagi adek saya juga harus bayar spp, keperluan sekolah, uang jajan dia sama uang bensinnya (dia bawa motor ke kampus). Belum lagi kebutuhan di rumah. Nggak mungkin dong saya mau minta lebih. Untuk saya sendiri aja satu semester udah makan Rp3.500.000,- masa saya mau minta nambah lagi? Kan orangtua saya kerja bukan cuman untuk saya aja.

Jadi, yah, saya harus berhemat dan menabung sebaik mungkin di sini, juga, belajar dan mendapat prestasi yang baik meski saya nggak suka ada di sini karena beberapa banyak hal. Alhamdulillah keluarga saya berkecukupan, namun, tidak ada salahnya menabung bukan?

Hehe, gitulah kira-kira alasannya. Nanti deh, kapan-kapan saya bikin resep masakan Indonesia a la saya di lain waktu. Insya Allah.


Salam
Adnida Kia Rahid

Sabtu, 22 Juli 2017

A Cruel World - When I Feel the World is Horrible

Hola

Bertemu lagi dengan saya, Kia-chan yang manis dan kawaii maksimal ini #hoek #muntah #alay

Entah kenapa, banyak banget yang saya pikirkan selama nganggur liburan kuliah ini. Wakakaka. Nggak deng, nggak selama liburan ada juga yang saya kerjakan. Yah, belakangan ini saya senang dengan merajut (crocheting) dan ada beberapa YouTuber dan Blogger yang ngasih pattern-pattern gratis dan hasilnya juga unyu-unyu :3 Meski ada beberapa yang bahasanya selain Inggris -_- (ex : spanyol, rusia), jadi butuh perjuangan untuk baca pattern itu T_T. Apalagi tiap orang kan punya style menulis sendiri, jadi harus dipahami.

Jadi, tahun ini saya gagal SBMPTN 2017. Hahahaha. Iya, padahal SBMPTN 2016 kemarin saya lulus lho (judul postingnya : Pelajaran). And yeah, it's very hurt for me. Adek juga gagal SBMPTN 2017, tapi dia lolos UMPTKIN 2017 di UIN XXX, jurusan Perbankan Syariah. Yeeey, congrats Bro!

Wait, kenapa saya merasa sedih gagal SBMPTN tahun ini, padahal saya udah kuliah dan resmi sebagai mahasiswa selama dua semester? Jawabannya, karena saya tidak suka dengan tempat saya berada sekarang.

Kenapa?

Banyak hal sebenarnya. Mulai dari perbedaan pendapat dengan teman-teman sampai rasa kesal saya terhadap senior yang hobi kepo sama urusan junior. Banyak juga yang meragukan dan mengolok-olok jurusan dan prodi yang susah payah saya dapatkan tahun kemarin. Guys, nggak gampang tau bisa lulus SBMPTN. Jika kalian berkata "lho, padahal saya nggak terlalu belajar, kok bisa lulus SB?", "ah, cuman kebetulan aja" dan sederet kata-kata lainnya, dengan senang hati saya mengatakan "kalian nggak tau perjuangan saya demi bisa lanjut sekolah"

Well, bagi yang baca postingan saya sebelumnya, pasti tau saya punya cita-cita yang dimiliki sejuta umat di dunia, cita-cita mainstream : DOKTER.

Dan, saya nggak nyerah buat raih cita-cita saya itu. Setelah gagal SNMPTN 2016, saya harus merelakan membuang mimpi saya sementara karena persaingan keras untuk menjadi dokter. Oke, saya ikuti kemauan orang tua saya untuk ikut dimana mereka menempatkan saya. Dan, semua pilihan SBMPTN 2016 kemarin tercipta sudah.

Setelahnya saya belajar, saya les, saya kerja soal2 yang notabenenya tiap hari saya lakukan dan sumpah saya bosan luar biasa, saya kesal luar biasa. Ada aja yang nggak bisa saya mengerti, sementara ketika saya lihat teman, cuman sekali baca dan cling, nempel di otak selamanya. 

Saya akhirnya berpikir, kenapa saya nggak bisa seperti dia?

Tekanan juga datang dari orang tua saya sebenarnya, yang seolah jauh lebih mementingkan MATEMATIKA, BAHASA INGGRIS, FISIKA, KIMIA, dan BIOLOGI. Selain itu, yah, bagi mereka sepele aja. Nggak penting dan nggak ada gunanya. Saya suka sekali seni peran, dan mereka dengan terang-terangan bilang itu cuman buat kamu rusak aja, nggak baik. Semua yang saya jelaskan dan jawaban mereka jujur aja bikin saya sedih.

Saya lebih diminta ikut PKM, Olimpiade dan semacamnya. Mama, Bapak, anakmu nggak sehebat anak orang lain, dia punya kelebihan sendiri yang kalau diasah juga nggak kalah sama anak orang.

Hahahaha

Yah, singkatnya saya ikut SBMPTN 2017 dan saya gagal. Itupun pilihan pertama LAGI-LAGI dipilihkan. Oh nggak, jujur aja, tiga pilihan SBMPTN 2017 itu nggak ada yang saya sukai. Semuanya "disetir" sama orangtua saya.

Yah, saya gagal. Minimal kalau berhasil juga saya bisa pergi dari tempat yang tidak saya sukai ini. Saya bisa "pulang" ke tempat lahir saya. Tapi ternyata nggak, saya masih harus fighting di sini. Di tempat yang tidak saya sukai ini.

Dunia kampus sungguh mengerikan, sangat.

Dunia kampus benar-benar bikin saya jengah dan berpikir "Oh, dunia kampus rupanya nggak sebagus kayak FTV atau sinetron"

Guys, kalian jangan percaya dengan namanya anti-senioritas, jangan pernah. Nyatanya, masih ada aja mahasiswa senior gila hormat dan sok banget kalau bicara.

Pertama kali masuk, saya udah ngerasain disuruh "tunduk", dikumpulkan di suatu tempat dan senior dengan beringasnya memarahi beberapa teman yang katanya tidak sopan. "Kita begini karena mau kalian baik". Helooooooo, kalau kalian begitu, mana ada junior yang baik, bang. Yang ada kita jadi takut sama kalian kita juga malu ternyata yang harus kami jadikan panutan nggak sesuai harapan.

Dengan nggak sopannya nyuruh beli gantungan kunci dan stiker nggak penting, maksa pula. Yah, memang setelahnya ada yang meminta maaf atas gangguan itu. 

Yah, silahkan kalau kakak punya solidaritas kuat, nggak ada masalah. Bagus malah. Tapi bukan berarti senior bisa mukulin teman-teman hanya karena masalah yang bahkan dia sendiri nggak ada di sana.

Masa-masa diklat entah apa itulah, sungguh masa-masa yang paling membuat saya sedih.

FYI, saya habis kena tipes dan itu membuat saya demam naik-turun selama sebulan lebih dan juga, saya habis kecelakaan. Dimana dampak kecelakan sial itu membuat tulang belakang, pinggang dan tulang rusuk saya agak bermasalah.

Coba aja kalian bayangkan, bagaimana rasanya orang yang belum sembuh dari sakit harus ikut kegiatan kampus, yang katanya masih rangkaian penerimaan mahasiswa baru. Duduk dari pagi sampai sore berdesakan 300-an mahasiswa, kalian pikir enak? Materinya bagus ya bagus, namun saya tidak nyaman karena masih sakit.

Belum lagi obat sekresek yang tiap hari harus diminum. Well, sakit dan minum obat 5 bulan itu nggak enak sama sekali.

Tahap kedua kami ke lapangan, hahahaha saya basah-basahan dan bermandikan lumpur. Kadang saya heran, apa hubungannya mencium kotoran dengan membiasakan diri. Bahkan ada kelompok yang disuruh kumur-kumur. Memangnya ada gitu, orang yang sikat gigi kumur-kumur pakai lumpur?

Pulangnya, sakit saya kambuh dan nggak kuliah dua minggu. Saya gosong, kurus, dan loyo. 

Tahap terakhir, kami ada di pulau kecil mengharuskan kami menginap.

Seperti yang sudah saya katakan, saya punya pacar (judul postingan : 13-Tiga Belas). Dan lagi-lagi, senior yang sok kepo berkata, semua yang pacaran akan saya permalukan kalau tidak mau putus.

Who are you?

Dan saya baru tahu, ternyata juga senior yang mengatakan itu juga punya pacar. Tepuk tangan #prokprokprokprokprok 

Alasan kenapa kami nggak boleh pacaran : karena ini adalah keluarga kalian sendiri.

Oh wow, sebuah alasan yang nggak masuk akal sama sekali.

Katanya, tiga tahap diklat ini membuat kami bergabung dengan keluarga. Kadang saya berpikir apa dengan menjadi keluarga harus melalui masa-masa dibodohi ya?

Lalu, ada yang namanya Inaugurasi, semacam apresiasi seni yang jam latihannya menurut saya bisa dipakai untuk menyelesaikan laporan yang lumayan tebal itu. Waktu latihan malam juga, sampai pagi. Kami harus berjualan untuk menggalang dana dengan harga yang sangat tidak masuk akal sama sekali.

Sekali lagi, saya minta maaf yang sebesarnya karena tidak bisa membantu dan berpartisipasi dalam acara Inaugurasi. Seperti yang saya jabarkan di atas, saya habis kecelakaan dan saya tidak sesehat kalian. Saya saat itu tidak mampu untuk jalan jauh demi menawarkan dagangan. Tapi, saya selalu membayar denda dan ikut membeli dagangan kalian. Walaupun sekali lagi, saya merasa cara kalian berdagang itu sangat amat aneh. Kalian menjajakan di sekitaran fakultas lebih banyak daripada ke fakultas lain. Itu sama saja uang kalian yang berputar-putar di sana.

Bahkan saya membeli tapi bukan saya yang makan dagangannya. Yah, karena  keseringan sakit saya kambuh. Seminggu penuh kenyang gorengan, haha. 

Karena banyak dari kami yang tidak bisa membantu, ada yang menyindir "yang tidak pernah membantu, bukan keluarga"

Ini membuat saya tertawa. 

Saya akan balik bertanya, "kita ini saudara dalam ikatan apa?"

Kamu Islam, saya juga Islam. Kamu ikut diklat, saya juga, semua prosesinya saja jalani meski tumbang beberapa kali. Kamu mahasiswa XXX, saya juga mahasiswa XXX secara sah. Saya membayar UKT, saya ikut perkuliahan.

Bahkan karena ini, prodi saya lumayan terpecah.

Jujur saja, semakin saya tumbuh, semakin mengerikan dunia menurut pandangan saya.

Sulit, untuk percaya siapapun sekarang.

Yah, hanya mencoba menjadi diri sendiri walau ada yang tidak bisa menerima pribadi saya karena "lain". Ambil saja cara bicara saya yang masih terdengar aneh di kalangan ini.

Saya hanya berharap, saya bisa bebas berekspresi tanpa ada paksaan.



Salam kesepian
Adnida Kia Rahid

Minggu, 20 November 2016

13- Tiga Belas

Hola

Bertemu lagi dengan saya!

Judul kali ini 13, iya tiga belas.

13, angka  yang terdiri dari angka 1 dan 3

13, menurut beberapa mitos adalah angka pembawa sial

Setiap tanggal 13, beberapa teman mengalami kesialan

Setiap tanggal 13, katanya ada kutukan menanti di sana

Tapi, kurasa itu tidak berlaku bagiku.

Bangku nomor 13 adalah bangkuku saat UN SMA (dan aku lulus dengan nilai yang baik ^_^)

Bangku nomor 13 dari depan juga merupakan bangku di mana aku mengikuti ujian SBMPTN di SMA Kristen Gamaliel Makassar (dan aku lulus SBMPTN pilihan kedua ^_^)

Tanggal 13 November 2016, kau dan aku mengikat janji dan berkomitmen bersama.

Tanggal 13 November 2016, perasaan kita saling terbalas.

Tanggal 13 November 2016, aku menjadi pacarmu dan kamu menjadi pacarku.

Jadi, tanggal 13 tidak melulu berisi kesialan, tapi juga ada kebahagiaan di sana.



Untuk MSG
Thank you for all the love you always gave to me, I love you
-Fiona Fung, A Little Love



Salam
Adnida Kia Rahid

Rabu, 20 Juli 2016

Pelajaran

Hola minasan!

Aaaah, posting-an kali ini bukan lanjutan manga, belum dapat versi Inggris soalnya XD. Bukan soal 'Pelajaran' dalam arti denotasi juga sih, meski judulnya pelajaran. Yah, mungkin bisa sedikit membantu untuk teman-teman sekalian.

Ini ... cerita tentang SNMPTN, SBMPTN, SPAN-PTKIN, dan UM-PTKIN yang udah aku lalui.

Jadi, ceritanya, bulan Juli tahun lalu (2015) aku dinyatakan naik kelas 3 SMA (MAN). Artinya, waktuku kurang dari setahun sebelum terjun ke dunia yang mendekati 'sebenarnya'. Kurang dari satu tahun untuk pakai seragam putih-abu lagi.

Hmmm, banyak hal yang terjadi selama itu. Mulai dari yang menyenangkan, menyedihkan, menyebalkan, menjengkelkan ... (kok kebanyakan buruk, ah, sudahlah). Yah, masa SMA-ku memang nggak seindah sinetron. Biasa aja.

Rutinitas nggak berubah, sekolah dan les juga tetap lanjut.

Oke, singkat cerita, kami sudah memasuki semester 2.

Sudah mulai waktunya serius untuk memilih jurusan kuliah. Kami punya waktu sisa tiga bulan sebelum pendaftaran SNMPTN dan SPAN dimulai.

Apa sih SNMPTN itu?
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau biasa disingkat SNMPTN adalah salah satu bentuk jalur seleksi penerimaan mahasiswa untuk memasuki perguruan tinggi negeri yang dilaksanakan serentak seluruh Indonesia, selain seleksi mandiri (melalui Ujian Mandiri) serta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). SNMPTN diselenggarakan pertama kali oleh Ditjen Dikti tahun 2008 atas jawaban terhadap kisruh yang terjadi di forum rektor PTN se-Indonesia terkait penyelenggaraan SPMB oleh Perhimpunan SPMB Nusantara, yang dianggap tidak sesuai dengan pola keuangan PTN non-BHMN (https://id.wikipedia.org/wiki/Seleksi_Nasional_Masuk_Perguruan_Tinggi_Negeri).

Terus, SPAN-PTKIN itu apa?

SPAN-PTKIN merupakan pola seleksi yang dilaksanakan secara nasional oleh seluruh UIN/IAIN/STAIN dalam satu sistem yang terpadu dan diselenggarakan secara serentak oleh Panitia Pelaksana yang ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia (span-ptkin.ac.id/informasi-pengumuman)

Intinya, keduanya jalur undangan. SNMPTN untuk jalur undangan umum ke seluruh universitas negeri seluruh indonesia, sementara SPAN-PTKIN jalur undangan khusus untuk masuk perguruan tinggi agama negeri (UIN, IAIN, STAIN).

Sebelumnya, aku jelas runding dulu sama orang tuaku.

Jujur aja, aku kadang nyesel udah ngeyel dengan saran mereka. Tapi, yah, aku memang nggak mau masuk ke dalam jurusan yang mereka rekomendasikan yaitu TEKNIK. Big no! Alasannya, karena ada om-ku yang dosen (gelarnya Prof. malah) di jurusan Teknik Lingkungan Unhas.

Biar gampang diurus masuknya, katanya. Tapiiiiiiiiiiiii, aku tetap ogah, itu curang. Buat apa mereka ngajar kejujuran selama ini kalau ujungnya aku harus curang demi PTN?

Aku lebih suka jurusan yang memang menarik minatku sejak dulu. Jurusan mainstream sejuta umat, kedokteran misalnya, psikologi, Sastra Jepang (you know-lah kenapa milih ini), dan hanya itu. Yeah, really.

Soalnya, kalau lihat-lihat nilai, wah, bisa nih tembus masuk, begitu pikiranku dulu.

Jadi pilihanku itu :
  1. Pilihan pertama jatuh pada pendidikan dokter XXX (well, sampai sekarang aku masih malu ngakuin mau masuk sini).
  2.  Pilihan kedua, teknologi hasil pertanian XXX, jurusan yang sama dengan ibuku.
  3.  Pilihan ketiga, XXX, jurusan Sastra Jepang.
Banyak hal yang dilakukan setelah itu, dan tentu fokus belajar demi UN sambil dibarengi belajar pelajaran SBMPTN.

Dan, kata-kata Mama sama Bapak yang sering menggaung itu : "Gimana kalau nggak lulus SNMPTN sama SBMPTN? Mau kuliah dimana? Kalo swasta, mending nggak usah. Mahal."

"Kenapa sih nggak mau teknik? Ada om lho. Atau jurusannya Mama? itu jurusan favorit sekarang?"

"Memangnya kenapa kalau ambil ekonomi atau akuntansi? sekarang banyak yang perlu lho"

Jujur aja, aku sakit hati sama kata-kata mereka. Seolah nggak percaya dengan semua yang aku lakuin selama ini. Memang tujuan mereka baik, tapi, yah, kokoro ini tak menerima.

Aku nggak mau lintas jurusan. Maksudnya, aku ini dari IPA, kenapa harus ambil IPS. Bukannya aku meremehkan IPS. Hei, uang miliaran mau dihitung itu nggak gampang buat akuntan lho! Apalagi mengimbangi ekonomi sekarang. Intinya, IPA atau IPS itu sama saja, punya kesukaran masing-masing.

Oke, lanjut lagi.

Nggak lama setelah itu, pendaftaran SPAN-PTKIN keluar.
  1.  Pilihan pertama UIN XXX jurusan Farmasi.
  2.  Pilihan kedua UIN XXX jurusan Kesehatan Masyarakat.
  3.  Pilihan Ketiga UIN XXXjurusan Tasawuf psikoterapi.
  4.  Pilihan terakhir UIN XXX jurusan Perbankan Syariah.

Singkat cerita, aku nggak lulus SNMPTN.

Oke, rasanya suakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit pake bangetttttttttttt! Aku nangis, ya jelas lah. Tapi nggak lama, terus hujan turun. Seolah ngerti aja kau lagi keki. Waktu ke tempat les, aku ketemu teman yang lolos SNMPTN dan mikir wah, enak banget. Ada juga teman yang nggal lolos SNMPTN sama kayak aku, wah, ada yang sama sedihnya kayak aku.

Aku mikir, padahal nilaiku sudah bagus dan bisa lolos, tapi nyatanya nggak? Kenapa ya? Mungkin aku terlalu over pede bakalan lulus, dan mungkin terlalu ngeremehin. Well, kedokteran UGM lhooooo. Nggak main-main lha pendaftarnya, mungkin aja yang masuk nilai dari kelas X jauh lebih bagus dari aku.

Kalo ngutip kata temanku nih ya:

"Percaya diri itu beda tipis sama nggak tahu diri"

Mungkin saja kepercayaan diriku justru sudah menjerumus ke arah nggak tahu diri.

Lalu, aku fokus belajar SBMPTN, buka-buka buku les JILC dan buku yang kubeli sendiri. Cari soal di internet, cari soal tahun lalu. Jujur aja, mual rasanya ngelihat semua soal yang kayaknya nggak ada habisnya itu.

Tapi, Mama sama Bapak terus mendukung, mereka bilang, "Usaha itu memang berat, tapi apa yang kamu dapat itu pasti hasil terbaik yang kamu dapat."

Singkatnya lagi, aku gagal SPAN-PTKIN.

Dari informasi yang kudapat, ternyata yang berhasil masuk SPAN-PTKIN kenyakan dari SMA, bukan sekolah Islam (MAN, MAS, SMAIT). Dan aku pikir kok begitu siiiiiih? Yah, mungkin bukan rezekiku, nggak apa-apa, Allah punya rencana yang lebih manis lagi.

Terus, waktu pemilihan jurusan SBMPTN dan UM-PTKIN dimulai.

Sebelumnya, SBMPTN itu apa ya?

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau disingkat SBMPTN merupakan seleksi bersama dalam penerimaan mahasiswa baru di lingkungan perguruan tinggi negeri menggunakan pola ujian tertulis secara nasional yang selama ini telah menunjukkan berbagai keuntungan dan keunggulan, baik bagi calon mahasiswa, perguruan tinggi negeri, maupun kepentingan nasional. Bagi calon mahasiswa, ujian tertulis sangat menguntungkan karena lebih efisien, murah, dan fleksibel karena adanya mekanisme lintas wilayah (https://id.wikipedia.org/wiki/Seleksi_Bersama_Masuk_Perguruan_Tinggi_Negeri).

Kalau UM-PTKIN itu apa sih?

UM-PTKIN merupakan pola seleksi yang dilaksanakan secara nasional oleh seluruh Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dalam sistem yang terpadu dan diselenggarakan secara serentak oleh Panitia Pelaksana yang ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia. Pembiayaan penyelenggaraan UM-PTKIN dibebankan kepada peserta seleksi dan Kementerian Agama Republik Indonesia. Bagi peserta yang lulus UM-PTKIN dari keluarga pra-sejahtera yang memiliki prestasi akademik dan non-akademik dapat mengikuti seleksi program Bidikmisi (http://um-ptkin.ac.id/). 

Intinya, keduanya itu jalur tertulis untuk masuk perguruan tinggi. SBMPTN jalur umum, kalau UM-PTKIN jalur masuk khusus perguruan tinggi agama Islam.

Untuk daftar SBMPTN dan UM-PTKIN itu bayar. Kalo SBMPTN Rp200.000,- kalo UM-PTKIN itu bayar RP150.000,-

Lalu, pilihanku untuk ini mulai berubah. Udahlah, lupakan dulu kedokterannya.

Untuk SBMPTN :
  1. Pilihan pertama : XXX - Teknologi Hasil Pertanian
  2. Pilihan kedua : XXX - PSP
  3. Pilihan Ketiga : XXX -Teknik Lingkungan
Hm? Haha, iya ngikutin orang tua yang teknik.

Untuk UM-PTKIN
  1.  Pilihan pertama : UIN XXX - Kesehatan Masyarakat
  2.  Pilihan Kedua : UIN XXX - Farmasi
Iya, nggak berubah pilihannya, cuman dibalik pemilihannya.

Setelah itu, aku belajar terus-terus. Ikut midnight (belajar sampe tengah malam) di JILC, ikut tryout, isi-isi soal, semacam itulah. Meski gangguan datang dari Anime-Anime seru yang lagi tayang ahahahaha, sama HP baru yang dibeliin sebagai hadiah lulus SMA sekalian ganti HP lama yang udah rusak.

Sampai akhirnya, H-1 SBMPTN datang.

Mama sama Bapak nganterin aku buat nyari lokasi. Tempatnya di SMA XXX. Aku dapat lantai dua, dekat toilet.

Pulangnya, Mama ngajak makan di KFC sambil ngambil bahan praktek di  kampus tempatnya mengajar. Lalu pulang. Sebenarnya, udah disuruh tidur dari jam 8 malam. Tapi nggak bisa-bisa. Walhasil, jam setengah 12 malam aku bangun dan ... belajar. Meski udah diwanti jangan sama Mama n Bapak.

Jam 4, Mama bangun dan bilang, "Bangun jam berapa? Tidur gih, nanti pusing lho!"

Aku baru tidur setelah Shalat Subuh -;-

Mungkin cuman setengah jam-an, terus mandi, makan, dan ... berangkat diantar Mama sama Bapak.

Singkat cerita, aku mulai ngisi soal. Biologi, banyak lah yang bisa dijawab. Yang lain juga lumayan. Alhamdulillah, lumayan bisa ngerjain soalnya, meski nggak semua. Aku bersyukur banget. Tapi, TKPA-nya laiiiiiiiiin banget dari yang udah dipelajarin selama ini. Aku padahal niat cari nilai tinggi di TKPA. Wah, berasa kesal banget. Tapi, adalah yang bisa diisi.

Pokoknya, jangan sampai ada pelajaran yang kosong aja. Nggak apa-apa nggak diisi kalo nggak tau, tapi, minimal ada satu nomor tiap soal yang bener-bener yakin. Misalnya, nggak tau fisika, miniman isi aja satu nomor, tapi benar. Soalnya itu mempengaruhi banget.

'Kan :
  1. Benar : +4
  2. Salah : -1
  3. Nggak diisi : 0
Setelah selesai, aku minta dijemput, dan asli lapaaaaaaaaaaaaaaar bangetttt! Mama ngajakin makan lagi di McD. Hahay :D.

Terus, sekitar dua Mingguan setelahnya UM-PTKIN dimulai. Tempatku di UIN XXX. Lumayan jauh, satu jam-an lah dari rumah. 30 menit kalo ngebut.

Hari itu sudah puasa, mana aku juga lagi pilek, :'(

Ujian UM-PTKIN itu dua hari. Hari pertama khusus TKPA, keislaman, dan kebahasaan. Aku sih nggak ada masala sama TKPA dan keislaman. Kebahasaannya itu lho. Yang Bahasa Arab ada yang huruf gundul (nggak ber-harkat) jadi susah baca. Tapi, yang didepanku yang emang udah lulus tahun lalu dan kembali UM-PTKIN lancar aja jawabnya :(. Jadi, cuman sedikit deh yang dikerjain. Padahal mempengaruhi juga. Mana Bahasa Arab itu paling mendominasi lagi, itu juga bagus kalo bener yang aku jawab :'(.

Hari kedua, baru deh soal-soal IPA. Alhmadullillah, soalnya lumayan lebih mudah dari SBMPTN, meski ada juga yang tetep nggak ditahu.

Aku kira, sistem UMPTKIN itu sama dengan SBMPTN. Ternyata, NGGAK SAMA!

Jadi :
  1. Benar : +1
  2. Salah  :0
  3. Nggak diisi :0
Dan kamvretnya, aku baru tahu setelah UM-PTKIN berakhir. Tau begitu aku tembak aja semua yang Bahasa Arab :'(. Ya, udahlah, udah berlalu juga.

Selama menunggu keduanya, aku juga ikutan seleksi beasiswa.

Semua do'aku selalu sama 'Izinkan aku mendengar kabar bahagia bahwa aku lulus.'

Lalu, tanggal 28 Juni 2016.

Web bisa dibuka jam 14.00 WITA, tapi ngadat. Mungkin banyak yang buka. Mama, Bapak, Nenek, semuanya nanyain terus. Mereka malah lebih panik dari aku. Web-ku baru kebuka sekitar jam lima sore. Ini jantung udah kayak bom aja pokoknya. Sampai akhirnya ....

AKU LULUS SBMPTN!

Alhamdulillah! Allaahuakbar!

Meski bukan pilihan pertama, ya, aku lulus dipilihan kedua. Alhamdulillah.

Pertama aku ngabarin Bapak yang langsung meluk-meluk aku, terus Nenek Laki-laki (panggilanku ke Kakekku), lalu nelpon Mama. Nenek Onah (Nenekku yang perempuan) baru tahu setelah puang dari masjid. Embah ditelepon setelah shalat Isya.

Tapi, aku nggak lulus UM-PTKIN :(.

Kata Mama : "Nggak apa-apa, itu rezekinya orang. Kamu 'kan juga udah dapat. Alhamdulillah."

Aku juga nggak lolos seleksi beasiswa :(. Ada sih, teman yang lulus, tapi memang dari keluarga kurang mampu.

Mama bilang, "Nggak apa-apa, Mama sama Bapak masih sanggup biayain kamu kuliah, asalkan kamu belajar yang baik. Masa mau senang dua-duanya? Ya, syukur-syukur kamu lolos dua-duanya, tapi, biarkan saja itu untuk yang lebih membutuhkan. Nanti Mama sama Bapak carikan lagi."

Sekarang, aku dalam masa verifikasi dan pendaftaran ulang. Mohon do'anya supaya dilancarkan, ya.


Salam
Adnida Kia Rahid


Sumber :